Rudisony

Community children’s digital villages

Tentang Alcatraz

Posted by rudisony on July 3, 2009

alcatraz

ALCATRAZ, Cuma sebuah pulau karang yang juga akrab dan popular disebut ‘The Rock” di Teluk San Fransisco, California, AS. Jauh lebih kecil dari pulau Nusakambangan yang bertahun-tahun silam jadi penjara paling terisolasi di Indonesia. Sebab posisinya yang terisolasi di tengah teluk, dikelilingi air laut yang dingin dan berarus deras, Alcatraz kemudian dibenahi sebagai penjara militer AS.


Pada tahun 1861, pulau itu memang sudah dijadikan lokasi penampungan tahanan perang dari berbagai kota, dan pada1898 ketika perang Spanyol-Amerika pecah, jumlah populasi tahanan di Alcatraz melonjak tajam dari hanya 26 tahanan menjadi lebih dari 450 tahanan. Kendati begitu, menyusul gempa bumi dahsyat di San Fransisco, ratusan tahanan sipil ditransfer ke penjara itu pada tahun 1906 sebagai jaminan keamanan mereka. Alasannya, penjara-penjara sipil di San Fransisco dan di sejumlah area di California rusak total. Makanya pada tahun 1912, pemerintah AS mengambil jalan keluar meningkatkan fasilitas keamanan penjara itu, sehingga sel-sel berpintu besi kokoh pun dibangun di situ. Berubalah Alcatraz dari sekedar penjara yang menerima tahanan-tahanan militer menjadi penjara yang juga menerima para tahanan umum.

Pada akhir tahun 1920, Alcatraz sudah memiliki bangunan penjara tiga tingkat dengan sistem keamanan yang super canggih, sehingga Alcatraz kian dikenal sebagai penjara yang terjaga ketat dengan disiplin yang sangat tinggi. Dan, sekalipun Alcatraz juga menerima tahanan-tahanan umum, tapi satu hal yang jadi tradisi disiplin militer, bahwa sel-sel penjara itu hanya digunakan sebagai tempat tidur, sehingga seluruh tahanan harus berada dalam keadaan terjaga sepanjang hari dan dibiarkan berkeliaran di lokasi terbuka dikelilingi tembok-tembok yang diatasnya dijaga ketat oleh para sipir bersenjata. Pengawalan ketat seperti itu, akhirnya mengundang kritik tajam. Sebab pembinaan penjara seperti itu dinilai tidak bakal mungkin mengubah para tahanan menjadi pribadi-pribadi yang bakal normal ketika kembali ke masyarakat nanti. Soalnya, para tahanan merasa sangat tertekan, sehingga tak jarang terjadi huru-hara di antara para tahanan yang ujung-ujungnya menyulitkan seluruh sistem di penjara itu.

Dari mekanisme disiplin kaku itu, muncul suara-suara sumbang bahwa akhirnya para sipir itu bukan menjadi Pembina tetapi sebaliknya menjadi para diktator yang semena-mena memperlakukan para tahanan. Dan, kisah para sipir homo yang mengurung tahanan pria berparas genteng di sel-sel Alcatraz untuk pemuas birahi mereka pun bergema santer. Bahkan kuasa uang sogok para tahanan untuk para sipir, agar mereka mendapat pekerjaan penjara yang lebih ringan dan enak pun kian tersiar luas.

(Dikutip dari Tabloid BNN, Edisi 31, Tahun 2007)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: