Rudisony

Community children’s digital villages

Kepulauan Raja Ampat

Posted by rudisony on October 28, 2009

 

raja_ampat

Kepulauan Raja Ampat yang terletak di bagian barat-laut Propinsi Papua memiliki luas areal daratan dan laut sekitar 9,8 juta hektar. Melihat posisinya di kawasan segitiga terumbu karang, yang tepat pada pusat keragaman terumbu karang dunia, maka laut di Kepulauan Raja Ampat diindikasikan sebagai kawasan yang paling kaya keragaman hayatinya di dunia.



Kumpulan terumbu karang yang luas dan kaya ini membuktikkan bahwa terumbu karang di kepulauan ini mampu bertahan terhadap ancaman-ancaman seperti pemutihan karang dan penyakit, dua jenis ancaman yang kini sangat membahayakan kelangsungan hidup terumbu karang di seluruh dunia. Kuatnya arus samudra di Raja Ampat memegang peran penting dalam menyebarkan larva karang dan ikan melewati samudra Hindia dan Pasifik ke ekosistem karang lainnya. Kemampuan tersebut didukung oleh keragaman dan tingkat ketahanannya menjadikan kawasan ini prioritas utama untuk dilindungi. Kepulauan Raja Ampat adalah bagian dari wilayah yang dikenal sebagai Kawasan Bentang Laut Kepala Burung, yang didalamnya termasuk teluk Cendrawasih, Taman Laut Nasional terbesar di Indonesia, dan Jamursba Medi, yang menjadi lokasi sangat penting di dunia bagi perkembang-biakan Penyu Laut.

 

Penelitian Membuktikan Keragaman Hayati Tertinggi di Dunia

 

Pada tahun 2002, The Nature Conservancy (TNC) dan para mitra lainnya mengadakan suatu penelitian ilmiah untuk memperoleh data dan informasi tentang ekosistem laut, daerah bakau dan hutan Kepulauan Raja Ampat. Survei ini menunjukkan bahwa terdapat sejumlah 537 jenis karang, yang sungguh menakjubkan karena mewakili sekitar 75% jenis karang yang ada di dunia. Ditemukan pula 828 jenis ikan dan diperkirakan jumlah keseluruhan jenis ikan di daerah ini 1.074. Di darat, penelitian ini menemukan berbagai tumbuhan hutan, tumbuhan endemik dan jarang, tumbuhan di batuan kapur serta pantai peneluran ribuan penyu. Kegiatan manusia di kepulauan ini belum memperlihatkan dampak negatif yang berarti dibandingkan dengan kawasan terumbu karang di tempat lainnya di Indonesia, namun ancaman-ancaman karena praktek-praktek yang tidak ramah lingkungan seperti penggunaan bom, racun (sianida), pengambilan telur penyu dan penebangan hutan yang tidak memperhatikan aspek-aspek kelestarian diperkirakan akan mengganggu keutuhan ekosistem yang ada.

 

Untuk menjawab berbagai tantangan melalui Konservasi dengan Kemitraan, The Nature Conservancy bekerja sama erat dengan pemerintah, masyarakat, lembaga swadaya masyarakat, serta sektor swasta dengan: 1) berkontribusi dengan secara bersama membangun rencana aksi yang komprehensif bagi perlindungan hutan dan terumbu karang Raja Ampat; 2) membantu memasukkan manajemen kawasan perlindungan laut ke dalam kebijakan dan perencanaan kabupaten untuk jangka panjang; dan 3) mendukung pembentukan jejaring kawasan perlindungan laut di Raja Ampat untuk melestarikan keanekaragaman hayati serta untuk kesinambungan sumber daya ekosistem.

 

Mendukung Kebijakan untuk Manajemen Penggunaan Sumber Daya yang Berkelanjutan

 

Pemerintah Kabupaten Raja Ampat membentuk enam Kawasan Perlindungan Laut (KPL) pada Desember 2006, yang membuat Raja Ampat menjadi kabupaten pertana di Indonesia yang mendeklarasikan sebuah jejaring Kawasan Perlindungan Laut. The Nature Conservancy dan Conservation International (CI) saat ini berkolaborasi untuk mendukung pemerintah dalam perencanaan dan manajemen jejaring Kawasan Perlindungan Laut dengan menyediakan bantuan teknis, pendidikan, dan saran serta masukan pakar-pakar internasional. Melalui survei dan monitoring kesehatan terumbu karang, populasi ikan serta pola penggunaan sumber daya, TNC menyediakan masukan teknis menuju perancangan sebuah sistem zonasi dan rencana manajemen untuk Kawasan Perlindungan Laut Pulau Kofiau dan Kawasan Perlindungan Laut Misool Tenggara. Hal tersebut bertujuan membuat masyarakat sekitar kawasan perlindungan laut bisa mengambil manfaat dari sumber daya kelautan mereka sambil pada saat yang bersamaan berupaya memastikan persediaan ikan tetap terlindungi di wilayah-wilayah larang-tangkap.

 

Meetings with local communities © M. Korebima, The Nature Conservancy

Pemerintah Kabupaten Raja Ampat juga telah mengeluarkan keputusan untuk sistem patroli dan pengawasan bersama yang melibatkan berbagai sektor pemerintahan, penegak hukum dan tentunya masyarakat. The Nature Conservancy mendukung inisiatif ini dengan menyediakan kapal yang berfungsi sebagai Stasiun Pengawasan Terapung untuk Kofiau dan Misool agar wilayah tersebut bisa dilindungi dari kegiatan perikanan ilegal seperti penangkapan ikan yang merusak dan pengambilan telur penyu laut. The Nature Conservancy dan mitra-mitranya juga bekerja sama erat dengan Kantor Perikanan dan Pariwisata, serta berbagai wakil dari industri turisme penyelamat, LSM lokal dan masyarakat setempat untuk memperkenalkan sistem tiket masuk ke kepulauan Raja Ampat. Dana yang diperoleh dari tiket masuk turis-turis tersebut kemudian ditanamkan ke bidang pembangunan sektor turisme, pengembangan konservasi, serta berbagai program kesehatan masyarakat Raja Ampat.

Menjangkau Masyarakat, Mengambil Langkah Nyata Untuk Konservasi

 

Untuk mendorong partisipasi masyarakat dalam berbagai inisiatif konservasi, The Nature Conservancy menggelar berbagai kegiatan termasuk Pride Campaign yang bekerja sama dengan RARE. Kampanye tersebut telah meningkatkan kesadaran konservasi diantara masyarakat setempat melalui serangkaian program pendidikan khusus bagi setiap lokasi yang diberikan kepada masyarakat melalui radio, pertunjukan boneka, informasi melalui pamflet, serta berbagai pertemuan masyarakat. Survei pasca kampanye menunjukkan hasil yang menjanjikan; di Kofiau dan Misool Tenggara, terjadi peningkatan persentase signifikan dari masyarakat setempat yang mengerti kaitan antara terumbu karang yang sehat dengan peningkatan jumlah tangkapan ikan. Masyarakat lokal di Kofiau dan Misool juga telahmembentuk sepuluh kawasan perlindungan laut tingkat desa. Masyarakat juga membangkitkan kembali pelaksanaan Sasi, – sebuah budaya turun temurun untuk menutup wilayah laut dalam jangka waktu tertentu untuk memberi kesempatan bagi beberapa spesies khusus agar bisa berkembang biak. The Nature Conservancy bekerja sama dengan LMMA Indonesia (Locally Managed Marine Area Network) dalam mendukung pemerintah Indonesia membangun kurikulum lokal bagi tingkat sekolah dasar yang memasukkan topik dan materi pendidikan konservasi kelautan ke dalam mata pelajaran ilmu pengetahuan alam.

 

Conservation International dan The Nature Conservancy juga menggelar program pendidikan konservasi kelautan Berlayar Sambil Belajar menggunakan kapal sepanjang 32 meter bernama KM Kalabia. Kapal ini berlayar mengarungi kepulauan Raja Ampat, memberi pendidikan konservasi kelautan bagi lebih dari 88 sekolah di kabupaten tersebut. Program pendidikan interaktif ini memberikan pendidikan melalui pemberian pengalaman, khususnya kepada murid-murid sekolah dasar. Modul-modul pendidikan yang tersedia termasuk “kunjungan lapangan” ke kawasan hutan bakau, menyelam skuba untuk memberi pengalaman langsung tentang terumbu karang dan dataran rumput laut tempat penyu laut dan dugong mencari makan, serta berbagai permainan yang mendidik seperti “Detektif Ekosistem” dan “Tantangan Teteruga”. Teteruga adalah bahasa setempat dari Penyu Laut.


Tujuan akhir kehadiran TNC di Raja Ampat adalah melindungi kekayaan terumbu karang Kepulauan Raja Ampat yang sekaligus diharapkan akan menjamin kehidupan masyarakat lokal.

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: