Rudisony

Community children’s digital villages

Kantin Kejujuran

Posted by rudisony on December 9, 2009

Kalau Anda belum tahu apa itu ‘Kantin Kejujuran’ sebaiknya Anda membaca link berikut ini (http://www.diknas-padang.org/mod.php?mod=publisher&op=viewarticle&cid=23&artid=240) atau (http://blogberita.net/2008/03/02/kantin-kejujuran/), lantas setelah itu mari kita membayangkan sebuah kantin sekolah yang sungguh ideal dimana setiap siswa dan guru adalah mahluk-mahluk jujur belaka dimana jika mereka masuk ke kantin sekolah, yang biasanya dijaga oleh istri Pak Bon dengan mata elangnya, tapi yang satu ini tidak dijaga siapa pun kecuali sejumlah malaikat berstatus volunteer yang tidak terlihat dan mendapat tugas khusus untuk mencatat siapa-siapa saja siswa dan guru yang mungkin belum kaffah kejujurannya. Tapi kalau mau ngemplang ya silakan saja. Hebat kan!

Para pembeli di kantin ini tentunya, diharapkan, adalah para siswa dan guru yang memasuki kantin dengan penuh keimanan di dada dan juga harus menguasai matematika (minimal aritmatika dasar penambahan dan perkalian) agar tidak keliru dalam membayar sejumlah uang sesuai dengan makanan, minuman, dan camilan yang mereka konsumsi serta berapa kembaliannya. Tak ada istri Pak Bon dengan mata elang dan kejeniusan aritmatiknya yang akan menghitungkan berapa uang yang harus kita bayar untuk makanan dan minuman yang kita kudap (atau mengingatkan siapa-siapa yang ngeloyor begitu saja tanpa membayar seolah masih sanak famili dari Pak Bon pemilik kantin). Di kantin jenis ini diharapkan siswa tidak menerapkan Prinsip 3-2-1 yang biasanya mereka terapkan di kantin reguler.

Apa itu Prinsip 3-2-1? Mohon jangan membayangkan ini sebagai strategi atau formasi tim LA Lakers karena prinsip ini berbunyi “Makan 3, Ngaku 2, Bayar 1”. Ini adalah semacam kredo siswa-siswa ‘mbeling’ yang mungkin ada di setiap sekolah yang kalau makan di kantin sekolah selalu berusaha untuk menerapkan prinsip ekonomi yang mulia dan agung ‘dengan usaha sekecil-kecilnya mendapatkan hasil yang sebesar-besarnya’, atau prinsip kreditor klas internasional yang berbunyi “Kalau bisa ngemplang kenapa harus bayar? Apa kata dunia…?!”.
Jadi kalau mereka masuk ke kantin mereka akan makan seenaknya dengan cepat (kalau bisa tanpa mengunyah) dan membayar seenaknya pula. Mereka adalah para ‘kreditor’ berdarah dingin yang tidak perduli apakah dengan tindakan mereka tersebut akan membangkrutkan Pak Bon pemilik kantin atau tidak. Mereka juga tidak segan datang berombongan dengan kecepatan kilat dan kerjasama yang rapi untuk menghabiskan kudapan yang tertata rapi di meja kantin sekolah. Dengan semangat “Vini, Vidi, Vici” mereka membuat penunggu kantin terbengong-bengong melihat betapa pisang goreng yang semula sudah dihitung baik-baik ada dua puluh biji tapi kemudian uang yang masuk ke kotak kas cuma senilai lima biji! Tak ada gunanya berdebat dengan siswa-siswa ‘berdarah dingin’ ini karena sulit untuk membuktikan siapa makan apa dan berapa banyak. Mereka akan saling melindungi bak mafioso Italiano. Paling-paling Pak Bon akan menyimpan dendamnya diam-diam seperti biasanya dan bermimpi suatu saat jadi kepala sekolah. Kalau saja dia punya kekuasaan seperti kepala sekolah mungkin siswa-siswa mbeling tersebut sudah ia pecat dari sekolah biar hidupnya ‘ngere’ semua. Kok ya tega-teganya mereka merusak perekonomian mereka yang begitu labil tersebut!

Jadi siswa-siswa ini memang perlu diajari soal kejujuran agar kalau mereka kelak jadi anggota masyarakat yang terhormat mereka tidak lagi berusaha ngemplang dan sabet sana-sini. Indonesia sudah kebanyakan koruptor dan something has to be done. Pelajaran kejujuran itu harus dimulai dari sekolah dan ide tentang ‘Kantin Kejujuran” tersebut sungguh menarik. Begitu menariknya sehingga dengan cepat ide ‘Kantin Kejujuran’ ini diadopsi di mana-mana dan dianggap sebagai sebuah solusi untuk mendidik manusia-manusia Indonesia yang terkenal ‘ndableg pol’ dalam soal korupsi. Ide ini berhasil entah dimana, diberitakan dengan penuh gegap gempita, dan dianggap sebagai sebuah cara yang sangat tepat untuk mendidik siswa agar kelak tidak tumbuh menjadi koruptor seperti bapaknya. Untuk itu siswa harus diajari untuk bersikap jujur, tidak boleh ngemplang di kantin, tidak boleh kucing-kucingan dengan Bu Bon bermata elang, dan yang penting diberi kepercayaan bahwa mereka, para anak-anak penerus generasi bangsa tersebut, pastilah bisa lebih jujur ketimbang bapaknya yang koruptor. “Beri aku sepuluh pemuda dan akan aku guncangkan dunia” begitu kata Sukarno dulu. “Beri aku sebuah kantin dan akan aku ubah mereka menjadi anak-anak yang jujur dan beriman belaka” mungkin ini kalimat turunannya. “Kantin Kejujuran” adalah ide yang sungguh original dan brilian untuk mengubah nasib bangsa yang terpuruk gara-gara korupsi yang sudah dianggap sebagai ‘gawan bayi’! (Paling tidak pada saat dicetuskan dan dibayangkan).

sumber satriadharma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: