Rudisony

Community children’s digital villages

Kisah Suster Apung

Posted by rudisony on December 16, 2009

Ibu Hj. Andi Rabiah atau yang lebih dikenal dengan nama Suster Apung adalah salah satu perawat yang mendedikasi hidupnya untuk membantu sesama di daerah kepulauan.

Tidak pernah terbesit didalam pemikirannya bahwa ia akan menghabiskan separuh hidupnya mengarungi lautan di Kepulauan Sulawesi dan Flores untuk menyembuhkan pasien-pasien yang tersebar di sekitar pulau-pulau kecil dengan hanya berbekal tekad dan perahu. Dalam melakukan kegiatannya  ia tidak pernah mengeluh sekalipun, bahkan pada tahun pertamanya ia bekerja sebagai perawat, ia selalu menagih janji kepada kepala desa yang pernah menjanjikannya untuk melaut. Sebagai perawat, ia memiliki prinsip yaitu bekerja sebagai pelayanan dan tanggung jawab kepada masyarakat. Ia memandang bahwa mereka juga saudara kita dan rakyat Indonesia berhak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Seperti yang ia katakan suatu waktu “Tidak ada yang boleh meninggal karena melahirkan dan tidak ada pula yang boleh meninggal karena diare”. Sebuah sikap yang terus diperjuangkan sekuat tenaga meskipun selalu mengarungi lautan yang sering kali tidak ramah. Walaupun hasil gaji yang diterima tidaklah besar dan tidak ada jaminan asuransi, namun Ia tetap mengabdikan dirinya untuk membantu pasien yang membutuhkan jasanya.

Dalam menjalankan pekerjaan, ia bersama posyandu lokal menolong pasien-pasien yang tersebar di daerah kepulauan yang mana memerlukan jasanya. Namun dengan minimnya fasilitas-fasilitas dimana salah satunya adalah transportasi, maka untuk menyembuhkan seorang pasien dibutuhkan waktu sehari atau semalam untuk menyeberangi lautan, padahal pada saat itu pasien telah berada didalam kondisi yang kritis. Sering kali para pasien menunggu berjam-jam untuk mendapatkan tindakan medis darinya. Untuk komunikasi tidaklah mudah untuk dilakukan, satu-satunya komunikasi yang ada adalah alat handy-talkie namun hal tersebut tidak dapat membantu. Hal ini dikarenakan handy-talkie lebih berguna di daratan, sementara ia hanya mendapatkan satu buah dan tanpa antena, dalam hal ini tidaklah efektif dilakukan karena tidak terdapat pasangan bicaranya. Maka dari itu, satu-satunya cara yang paling efisien adalah pengiriman anak buah oleh kepala desa dari suatu pulau ke tempatnya. Ini juga tidak mempermudahkan keadaan, karena untuk mengarungi suatu pulau membutuhkan waktu yang lama dan tidak selamanya keadaan lautan tenang.

Untuk masalah persediaan obat-obatan ternyata masih sangat kurang, minimnya stok barang kadang-kadang membuat suster apung melakukan tindakan yang sangat bahaya. Ia pernah mengobati pasiennya dengan menggunakan obat yang sudah kadarluarsa, dan untungnya saja pasien yang ia sembuhkan hingga saat ini hidup sehat wal afiat. Kondisi inilah yang membuat suster apung tersebut mengambil keputusan dengan cepat, berperang dengan hati nurani, jika pasien tidak disembuhkan maka pasien itu akan mati, namun jika tidak diobati akan mati juga. Jika hal itu terjadi maka ia akan dituduh melakukan mallpraktek, namun nalurinya membuat ia tetap menolong pasien tersebut.

Dalam mengarungi lautan, sering kali ia menemukan masalah. Pernah pada suatu hari di tahun 1979, kapal yang ia naiki menabrak karang dan pecah. Bersama dengan awak kapal dan kepala desa yang semuanya berjumlah 14 orang terdampar di karang yang pada waktu pasang akan tenggelam, namun syukur pada saat itu kondisi air sedang tidak pasang. Kurang lebih seminggu mereka terdampar di pulau Karang Kapas, pulau karang tanpa tumbuhan dan tanpa penghuni ditengah laut. Untuk bertahan hidup mereka memasak 1 liter nasi untuk 14 orang dimana satu orang hanya mempunyai jatah satu sendok. Untuk menyelamatkan diri, mereka menuliskan pesan pada punggung bangkai penyu besar yang dihanyutkan dan akhirnya pesan tersebut sampai ke tangan seorang nelayan dan pada akhirnya mereka berhasil diselamatkan. Namun, kekhawatiran mereka tidak berhenti pada saat itu saja, karena pada saat itu masih banyak perompak yang beredar di wilayah perairan tersebut. Tapi pada akhirnya mereka semua selamat.

Usahanya yang telah ia lakukan berpuluh-puluh tahun akhirnya membawa hasil, akhirnya cerita mengenai suster apung sampai ke telinga orang-orang. Beberapa penghargaan telah ia terimanya, dan pada tanggal 10 November 2008 bertepatan dengan hari pahlawan, Modernisator memberikan penghargaan “Menghargai Pahlawan Masa Kini” kepada beliau atas perjuangan inspiratif yang telah ia lakukan selama 30 tahun memberikan layanan kesehatan kepada masyarakat di pulau-pulau terpencil di Indonesia Timur.

sumber: modernisator.org

One Response to “Kisah Suster Apung”

  1. sri hartini said

    AS.Wr.Wb

    Artikel tentang suster apung sungguh luar biasa patut diacungi jempol! Hebatttt….
    wassalam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: